“ why do I always look happy?”



Someone asked me “ why do I always look happy?” 
Then I tought deeply and answered : "I don’t know. But maybe because of some of the things and difficulties that I've been through the last few years."
Sometimes I get resentful  with someone, condon this people by my own , but I still do not want to see  or hark  any news about  him/her. And and I kept  this on my own.  
Sometimes I have issue  with people whom much loved by many people, but no one knows.  
Sometimes I adore  someone that many people hate most, and  and I am  proudly telling it. 
So, the cycle seemed like I was in trouble, I tried to figure it out,  I make effort to forgive and Finally I am dealing  with my thing  by my own self. 
This cycle happens repeatedly.  
Until I thought, these tidings  widened my perception. In every difficult moment, I always try to find something that's funny and can cheer me or people around me up. 
I live in between most people want and  most people dont want.  
But thats my life. I d g a f about what people think. I dont need to impress people that dont need my impression. I cared people that opened to be cared.  
I am a doctor, and  everyday I met different people with their health issue. My empaty was my routine daily expression.  
But you know, I care to all of my patient, but I am more caring to patient who feel very thankfull of my help. Its just my humanity side, we feel confident , happy, glad and blessed because of sincere thankfullness from others.
well, That's maybe some reason why I always look happy.  

Sebuah Pintu


Pada suatu hari, ada seseorang dengan ruangannya yang memiliki sebuah pintu.
Di dalam ruangan itu, dia dan kesendirian itu adalah dunia yang sempurna.  
Pada awalnya, dia memang tidak pernah mengunci pintunya. Dia sering membiarkan pintunya terbuka.
Kemudian, orang lain sering masuk ruangannya, awalnya dengan permisi. Namun lama-lama langsung masuk, tanpa permisi tanpa kesungkanan.
 
Sekali, dua kali terjadi, dia memaklumi. 
Hingga kunjungan kesekian kali dan dia merasa terusik. 
Lalu dia sedikit menutup pintunya dengan sedikit terbuka. Seperti ada celah untuk sekedar mengintip. Kemudian orang lain, mulai masuk keruangannya, dengan permisi dan sedikit mengintip. Namun lama-lama tidak permisi dan tidak mengintip. 
Sekali, dua kali terjadi, dia memaklumi. 
Hingga kunjungan kesekian kali dan  dia merasa terusik.
Kemudian dia menutup pintunya, namun tidak menguncinya. Pada awalnya orang mengetuk, namun lama kelamaan orang langsung masuk, tanpa ketukan dan permisi lagi. 
Sekali, dua kali terjadi, dia memaklumi.  
Hingga kunjungan kesekian kali dan  dia merasa terusik.
Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Orang yang akan masuk pun jadi mengetuk-ketuk dan begitu dibuka, orang permisi dan langsung masuk.
Sekali, dua kali terjadi, dia memaklumi.  
Hingga kunjungan kesekian kali dan  dia merasa terusik.
Kemudian dia tetap menutup dan mengunci, namun kali ini setiap ada ketukan, dia berpura-pura tidak mendengar. Dia hanya membiarkan saja.  
Hingga lama-lama benar-benar tidak terdengar. 
Lama-lama hilanglah ketukan, Hilanglah orang yang berlalu lalang untuk masuk ke dalam ruangannya. 
Awalnya dia merasa kenyamanan akan keutuhan dunianya yang tidak terusik. Dia merasakan dunianya yang begitu sempurna sesuai harapannya. 
Namun sepi itu berlalu terlalu lama. 
Sekali, dua kali dia memikirkan apa yang hilang.  
Hingga renungan ke sekian,  dia merasa kesepian. 
Dia mulai berpikir bahwa orang-orang sudah tidak memperdulikan dia lagi. Dia merasa sedih, sendiri dan tidak diperdulikan.. 
Lalu dia keluar dari ruangannya, melihat sekitar dan mulai mencari pintu orang lain yang terbuka. Disaat melihat yang terbuka dia menghampiri dan mulai mengetuk. 
Hikmah dari cerita ini ? 
Oh ini hanyalah kisah seseorang dengan pintunya . 
Intinya, Setiap dari kita  pernah menjadi yang di dalam dan diluar pintu. 

Mungkin Ini Masa Dorman Saya (?)



Beberapa waktu ini saya merasa begitu jenuh dengan apa yang akhir-akhir ini terjadi. Semacam apapun yang sedang saya dialami terasa "It's Suck". 
Boleh jadi mungkin kurang bersyukur, mungkin terlalu malas, mungkin terlalu mudah mengeluh, atau ntah mungkin apalah, yang  jika dirunut akan kembali ke kemungkinan pertama tadi, "mungkin kurang bersyukur.
Yang menjadi masalah bukanlah "Mengapanya", namun renungan-renungan lain yang berputar-putar di angan-angan saya  , seperti 
Pertama, Ntah apa memang saya benar-benar merasa jenuh dari awal, atau orang-orang di sekitar saya yang sering mengungkapkan keluhan jenuh dan keluhan tersebut berulang ulang saya dengar,  sehingga membuat saya tersugesti untuk ikut-ikutan. 
Kalau misal jawabannya adalah prasangka yang pertama, apakah karena tidak ada pekerjaan, kesibukan, tugas atau deadline? 
Jujur. Ada, berjibun malah. Namun terlalu tidak termotivasi untuk sekedar memulai. Kalaupun Ada yang memotivasi, sering ada sanggahan dari saya “What is the rush?” 
Jika jawabannya adalah prasangka yang kedua, saya jadi berpikir "Kok saya jadi Proyeksi ya." 
Yasudah, saya memikirkan jawaban pintasnya saja. "Yeap inilah Masa dorman saya". Masa dorman Pernah terjadi beberapa kali saya dihidup saya, dan sering saya sikapi dengan seperti orang pada umumnya, "Biarkan saja mengalir"

Namun apa yang berbeda dari masa dorman ini? 
Mengapa saya jadi agak memperdulikan untuk yang kali ini? Padahal sebelumnya saya membiarkan saja, sambil mencari-cari kesibukan lain atau menunggu berakhir dengan adanya kejutan masalah baru yang tidak bisa dinegosiasi dan disanggah  lagi tenggat akhir penyelesaiannya.  
Karena, beberapa bulan yang lalu saya begitu mencemaskan tentang apa yang akan terjadi dengan Quarter Crisis saya, saya begitu mempertimbangkan ini itu. Mengangankan ini itu, mendata beberapa pilihan dengan kemungkinan keuntungan dan konsekuensinya, namun sekarang pikiran itu telah pergi ntah kemana dan saya tidak berminat lagi untuk memikirkan ulang.  “Bushhhh. Yeah, just gone” 
Saya mulai mempertanyakan, apakah mungkin saya sedang fase depresif ? Karena depresi memiliki Triasnya, yaitu Anhedonia (sulit untuk merasakan kesenangan), Anergia (kehilangan semangat dalam kegiatan sehai-hari) dan Afek depresif (perasaan sedih, hampa dan tidak percaya diri). 
Setelah saya pikirkan lagi, hal-hal yang saya alami akhir-akhir ini hampir memenuhi trias tersebut. But in my defense, saya sangat yakin masa dorman ini bukanlah fase depresif saya. atau mungkinkah saya sedang denial (?). Ya sudahlah, denial apa bukan, kembali saja ke jalur pintasnya "Yeap inilah Masa dorman saya."
Saya tidak membutuhkan solusi untuk masa dorman ini. Karena saya sedang di posisi, merenungkan apa masalahnya saja malas, apalagi mencari solusinya. Saya hanya berpikir, seperti hal-halnya masa masa yang lain, masa ini  akan berakhir juga,  sesuai dengan jatah durasinya.
Saya sedang tidak mengharapkan datangnya kejutan masalah, but really, It's Suck.   
Semoga saja ini benar-benar hanya masa (?) 
Orang bilang "Life is never flat", tapi kalau saya yang bilang "My way of life has never been smooth. But, sometimes I feel it's flat. And I am sad, cz this is just my sense. My way of life still has never been smooth, and I feel the other not-truth-thing. "
Saya teringat dengan nasehat bapak saya, bahwa dibeberapa masa hidup kita ada masanya kita berjalan "nguoyo" dan berjalan santai. Disaat berjalan "nguoyo" kita akan berlari kencang  terfokus pada target kita dan tidak sempat melihat target orang lain. Dan disaat kita berjalan santai, kita berjalan apa adanya dan bisa sambil menengok yang lain. Disaat berjalan santai inilah mungkin bisa disebut masa dorman, 

ILUSTRASI KISAH CINTA DI BANGSAL [PART 1]


Bangsal rumah sakit itu memberikan banyak cerita 
Cerita cinta sejati misal 
Pernah kita terlamun sejenak menyaksikan seorang kakek yang menunggu seorang nenek yang terbaring sakit 
Mungkin orang melihat kita biasa saja 
Tetapi tanpa sadar kita hanyut dalam lamunan 
Akankah suatu hari nanti jika kita yang terbaring karena sakit ada orang yang akan setia begitu menunggu 
Begitu sabar merawat 
Begitu telaten menenangkan kita  
Yang selalu mengakatakan kita akan baik baik saja
Yang akan sering mengajak kita bicara dan mengenang hal-hal indah dan duka yang telah dilewati bersama
Yang bergitu tak pernah bosan memandang tidur kita sesambil berdoa 
Yang akan begitu mendoa agar kita sehat seperti sebelumnya 
Yang begitu merindukan kita disaat sehat 
Yang begitu berharap kita terbangun 
Dan Yang begitu takut kehilangan kita
Dan pertanyaan akankah itu terus berputar dalam lamunan
Hingga lamunan terpecah karena mungkin ada perancu lain atau mungkin karena subjek lamunan kita memandangi balik 
Menua bersama, mungkin itulah salah satu angan terpendam muda mudi sekarang.

Kemudia kisah di bangsal yang lain tentang cerita cinta dari kerabat dekatnya 
Yang menguatkan, memberi sedikit bantuan
bercerita humor agar terhibur
Membawakan makanan
Yang sekedar menjalankan sunnah perintah agamanya
Ataupun kerabat yang hanya ingin sekedar tau keadaan.
Jumlah kerabat yang menjenguk pun bisa menggambarkan sakit dari pasien. Jumlah kerabat yang banyak dan silih berganti, bisa menggambarkan keungkinan besar pasien baru mengetahui sakitnya untuk pertama atau kedua kali dirumah sakit. 
Kerabat sedikit yang menjenguk atau bahkan mungkin hanya kelarga dekat bisa menggambarkan mungkin sakitnya sudah lama. Sudah sering keluar masuk rumah sakit ntah untuk jadwal terapi yang rutin atau sakitnya sering kambuh-kambuhan dalam waktu yang tidak sebentar. 
Dari sini, kita belajar betapa pasien yang sakit kronis dan lama butuh perhatian dan support yang lebih, karena selain kerabat yang menjenguk sudah berkurang , mungkin kerabat terdekat sekitarnya juga sudah merasa jenuh. Tapi rasa jenuh itu  mereka kesampingkan dengan ideologi kesabaran dan kepercayaan akan keluarga dan Tuhan



Take Care of Your Soul


Did you ever feel that you are not as lucky as other?
You asked to your self “ Why is she/he so wealthy, so smart, so pretty, having a good family, good relationship, and almost so perfect?”
And Then you started to disparage your self and realized that you have so many Flaw
You should struggle so hard For only getiing a simple achievement and Sometimes It sacrificed your tear
Why was she/he always admired with approbation for everything they’d done, for every simple and single thin, for every achievement
Whereas,  “your existence was being noticed” was more than enough for you 
Why were they always to be understood and forgive-able for their every wrongness?
Meanwhile your error was like as your identity and could not be understood
Why their  life stories that seem ordinary can be so interesting to hear
Meanwhile, when you  tell your most interesting storiy,  sometimes make people’s ears seem bored just to hear
Until you are in the realized phase, maybe our lives are just a complementary role to their lives
Probably true, but not entirely true.
For some of you who believe in God, surely you know God never sees human from the side of the above
What He sees is our sincerity, how sincerely we live in the path that He has destined
All He sees is our sense of gratitude of Him
How grateful we are for every thing that  we have to go through everyday
Because everyone is the main character in his own life
God gives us some problems of life, to see how we react to them
Do we face it with anger?
Or with patience?
Or with denying?
Or whether by giving up  the help of God and sacrificing our faith?
In fact and verily, the Lord has given good and trials according to human’s portion
If we get the life as fortunate as our friends before,  it does not guarantee that we can live as well as they do
Therefore, stop comparing yourself with others!
Love your soul !
Give positive vibes to your soul
Fulfill your soul's needs with Happiness, gratitude, faith in God's name, Positive things
Never let your soul feel alone until being numb
Do not let him feel as if it is useless just because of too often low self-esteem
Believe in your soul
Take care of your soul
Until you pray with all your heart and eyes closed, “Oh God, I do not have a shape that is as physical as my soul. Therefore, I beg you to your all-powerful, and your knowledge of all forms, Help to embrace my soul, tell him I apologize too disdain him, too distrustful of him, too busy looking at others until I  forget to take care of my own soul.  Tell my soul  “I am sorry “ for ever making him  feeling useless. Tell my soul,  thank you for staying, and now I realize my need for my soul, let's stand upright mutually to live God's destiny with all its blessings and exams, we have long ride and journey that should be passed”


In The Zone

In The Zone, pasti kita ingat dengan salah satu postingan raisa yang menunjukkan dia bernyanyi dengan nyamannnya, sambil menutup mata dan kemudian dia mengupload foto itu ke instagram dan diberi caption "In the Zone".
Bagi yang tidak tahu postingan yang saya maksud, ini saya kasih pic nya. 



Saat dulu pertama kali melihat postingan ini, sesaat membuat saya terpikir dalam. "How comfortable this is" "How Lucky Raisa is" " Andai saya seperti Raisa" dan Sudah Pasti kalau sebagian besar orang pernah membayangkan dan menginginkan . Menginginkan berada di zona nyamannya sendiri yang dapat mengembangkan bakatnya dan syukur dapat menghasilkan Rupiah dalam kenyamanannya. 
Iya, iya memang benar bahwa setiap orang tidak seperti dan seberuntung Raisa. Tapi apa yang di posting Raisa ini bisa menginspirasi kita bahwa seharusnya  kita bisa membuat lingkungan yang dominan kita tempati bisa menjadi lingkungan yang terasa comfort zone bagi kita.
Sering kita mendapatkan anjuran agar kita keluar dari zona nyaman kita agar kita berkembang.  Tapi nyatanya kita justru merasa tidak nyaman diluar zona itu. Membuat merasa tidak bisa berekspresi dan terbatas. Ya intinya tidak nyaman lah ya. 
Seperti layaknya kultur sel atau bakteri diluar medium nyamannya, bisakah dia tumbuh dengan baik?
Tidak semua fase berkembang  harus keluar dari zonanya, mungkin ada fasenya dia tetap berada dalam kenyamanan. Tapi membuat zona nya dalam setiap lingkungannya. Agar dia bisa berkembang dengan baik dan benar. 
Setiap orang memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri
Tapi hal itu tidaklah mudah.
Karena harus membuat diri ini respectable lah yang bisa bebas menjadi diri sendiri.
Itulah kenapa sebagian besar orang memasukkan uang dan kedudukan dalam tujuan besar hidupnya. Kenapa?
Karena saat berlimpah dikedudukan tertinggilah orang lain akan menghormati apapun bentuknya
Apapun dirinya
Apapun kesukaanya
Apapun yang membuatnya tertawa
Malah orang lain akan mencarikan hal hal itu untuk yang merasa dihormatinya
Tidak, tidak salah. Realistis saja. 
Tapi untuk sementara buat kita yang sedang meraba raba seakan mebaca huruf braile sesambi membayangkan akan jadi seperti apa masa depan kita dan tentu saja bukan terlahir sebagai princess ataupun prince.
menjadi respectable tak harus menjadi terkaya atau tertinggi kedudukannya.
Menjadikan diri menjadi pribadi yang baik dan ringan menolong pun bisa begitu mengesankan.
Memberikan pertolongan terhadap hal hal kecil.
Mengiyakan dan menyambut dengan senang  jika ada menawarkan bantuan.
Tidak menolak tawaran makanan seringan apapun untuk melegakan yang memberi.
Mendengarkan ceritanya dengan memandang langsung.
Sekedar sengaja meluangkan waktu hanya untuk mendengar.
Mematikan gadget sementara untuk menyambut senyum yang baru terlempar ke wajah kita.
Berusaha menyortir perkataan kita yang akan kita keluarkan, akan menyakiti hati orang atau tidak.
Membuat diri terlihat bodoh hanya untuk sekedar membuat orang lain tawa.
Dengan sengaja meluangkan waktu pagi untuk membuat dan membawakan bekal untuk teman kita.
Sekedar me landscape kan sajadah kita saat solat jika sebelah kita kita tidak membawa sajadah.
Hal hal kecil diatas pernah saya dapatkan dari orang-orang disekitar  saya, dan selalu membuat saya terkesan.
Dan hal kecil mengesankan itu mungkin bisa membuat oranglain terkesan juga jika kita lakukan ke orang lain.
Karena kebaikan itu mudah menular jika diberikan pada reseptor yang tepat.
Dan banyak hal hal kecil lain yang bisa kita lakukan.
Yang bisa membuat medium menjadi begitu nyaman dan respect kepada kita hingga menjadikannya zona nyaman yang baru, dan bisa membuat kita berkembang menjadi orang yang lebih baik

Selamat menciptakan zona nyaman !

pelajaran




Salah satu cuplikan adegan tv series favorit saya,  The Big Bang Theory. Serial TV yang digarap apik oleh Chuck Lorre dan Bill Prady memang luar biasa dan patut ditonton. Series bergenre komedi  ini sampai sekarang sudah berjalan 10 season  dan masih berlanjut. Dan cuplikan diatas merupakan salah satu scene favorit saya yang bisa diambil beberapa pelajaran. Here we go..

Scene ini dimulai dengan cerita Penny yang ingin menelepon Leonard (pacarnya), yang sedang  berpesta  dan tidak dapat untuk berbicara melalui telepon. Penny merasa marah dan kecewa, sehingga Sheldon membuatkannya minuman hangat untuk menghiburnya dan membuatnya lebih nyaman. Penny mulai agak tenang dan mereka sepakat untuk  saling bercerita tentang "Rahasia Berharga" mereka yang tidak pernah diketahui orang dengan tujauan untuk sedikit mengurangi ke bad mood an Penny.
Cerita dimulai dengan beberapa rahasia konyol Sheldon. Lalu, Penny meminta agar dirinya saja yang memulai bercerita untuk memberi Sheldon contoh rahasia penting yang dimaksud. Penny memulai berbagi rahasianya. Dia bercerita tentang bahwa dia pernah  beradegan topless di film horor  yang belum pernah dirilis. Sheldon tidak merasa kaget dengan rahasia Penny, karena dia dulu pernah menonton adegan yang diceritakan Penny tersebut. Howard (Sahabat Sheldon yang lain) telah menunjukkan kepadanya sesaat setelah pertemuan pertama mereka dulu. Dan Penny merasa bodoh. hehehhe
Sheldon paham tentang rahasia penting apa yang seharusnya dia ceritakan. Kemudian, giliran Sheldon berbagi rahasianya. Sheldon bercerita tentang  ketidaksukaannya terhadap sistem rating YouTube dan tak seorang pun mengetahui itu. Sheldon  mengtakan dia tetap berpura baik baik saja padahal dia merasa sangat kecewa denga sistem rating Youtube tersebut. Penny merasa ditipu karena rahasianya terlalu berharga dan penting dibanding dengan rahasia Sheldon yang tidak penting. Penny meninggalkan pembicaraan dan pergi tidur, lalu
Sheldon mengatakan " Here's something you don't know about me, You just hurt my feeling"
Penny : "what did I do?
Sheldon : " I opened up and shared something deeply upsetting to me and you treat it as if it were nothing"
Penny : " I don't  think it was a big deal"
Sheldon : " It is to me and that's is the point" 
Kemudian Penny merasa bersalah, meminta maaf dan Sheldon memaafkannya. Dan mereka berpelukan.
Naaah, dari cerita itu kita bisa mengambil beberapa pelajaran, pertama bahwa hidup itu tidak selalu tentang  diri kita sendiri. Tapi juga tentang teman kita, sahabat kita atau pun tentang orang lain yang mungkin tidak kita kenal. Maksudnya bukan tentang selalu memikirkan orang lain, tapi tentang bagaimana kita menempatkan diri untuk tidak melukai perasaan orang lain. Hal ini tidak lah susah, bisa dimulai dengan saat berbicara dengan orang, berbicaralah tentang kalian bukan hanya tentang diri kita, karena itulah makna dari sebuah pembicaraan.

Kedua mungkin kita sering menjadi Penny, dimana menilai penting tidaknya sesuatu itu hanya dari cara pandang kita. Padahal tidak selamanya seperti itu. Disaat seperti itulah kita perlu menempatkan diri pada sisi lawan bicara kita. atau bisa memikirkan bagaimana jika sesuatu yang sangat kita anggap penting, dianggap tidak penting bagi lawan bicara kita, kan sakit. 

Ketiga , tidak salah kita menjadi seperti Sheldon yang langsung mengatakan hal yang  menyakitkan kita, bukan bertujuan untuk mencari perhatian, tapi untuk memberitahukan pada teman kita bahwa itu salah. Dan saat teman kita meminta maaf dan mengakui kesalahannya, kita berlapang dada untuk memaafkan. 

Keempat, terimaksih sudah membaca :)

Mereka bilang itu manusiawi


Tak selamanya yang terlihat baik akan selalu berbuat baik
Tak selamanya yang mengagumkan akan selalu terlihat mengagumkan
 Tak selamanya pula yang selalu berusaha tersenyum saat dihujani masalah, akan selalu tetap tersenyum 
Iya merekalah manusia,
Setiap dari mereka memiliki batasannya sendiri
Batas yang mungkin membuat mereka lelah, tapi bukan lelah yang menyerah,
tetapi untuk memberikan waktu untuk diri untuk rehat sejenak 
rehat untuk menaikkan lagi batas sabarnya 
Seberusaha untuk menjadi sempurna selalu ada celah
Yang menjadi sayangnya adalah manusia yang lain hanya aka mengingat celahnya
Sebenarnya itu juga hal manusiawi
Tapi manusiawi yang tidak baik
Ada banyak hal yang bisa membuat diri menjadi positif tetapi selalu menyimpan hal-hal yang negatif
Dan itulah juga manusiawi, iya, sekali lagi  sifat manusiawi yang tidak baik

27 Things To Do Before You Settle Down


kayaknya kalo sudah "settle down" pun kita masih bisa melakukan hal hal diatas. Saya share ini buat menginspirasi saja, daripada hidup hanya sekedar didepan gadget , lebih baik melakukan hal-hal yang lebih hidup seperti hal hal yang dilakukan diatas. semoga menginspirasi :)

instropeksi diri

untuk apa merasa iri kepada orang lain , kalau setiap orang itu ada porsi ujian dan suksesnya masing masing.
mengapa kita harus sedih melihat kesenangan orang lain padahal itulah yang pantas dia dapatkan atas usahanya.
mengapa kita selalu merasa kurang akan limpahan kelebihan yang diberikan pada dirikita padahal itu sudahlah untuk porsi kita, porsi yang tepat, yang terbaik untuk kita.
daripada memikirkan apa orang lain miliki tetapi tidak dimiliki orang lain , lebih baiknya lah  memperbaiki diri.
Buatlah agar diri ini lebih menyayangin dan memeprdulikan masa depannya, dan juga memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan, yang mungkin agak renggang karena rasa tak bersyukurnya tadi.
Jangan  memikirkan oranglain yang belum tentu memikirkan kita, jangan mengkhawatirkan orang lain yang bisa menikmati kesuksesan atas jerih perjuangannya sementara kita masih berjuang.
 masing masing sudah ada jalannya dan sudah ada yang mengatur akhir bahagia untuk usahanya.
Lebih baik memikirkan orangtua yang pasti memikirkan dan mengkhawatirkan kita.
Selamat beusaha dan bersabar :)

Teman yang sama dengan kita

Pernah saya berharap memiliki seseorang teman yang benar benar memiliki karakteristik sama persis seperti saya. Dari sifat dasarnya, kepribadiannya, hobi nya dan sebagainya. Tak selang beberapa waktu saya menemukan beberapa  teman yang seperti itu. Yang sama segalanya . Sehingga apa pun itu yang tidak anaeh bagi saya, tapi aneh bagi ornag lain yang sering saya lakukan saya tidak perlu menjelaskan lagi. Saya tidak perlu takut dia akan membicarakan saya dibelakang saya, iya karena itu saya begitu mengenal dia. 
Tapi dengan berjalannya waktu saya juga memahami kalau kejelekan yang ada pada saya, juga ada pada mereka. Sehingga terkadang saya melihat diri saya di mereka. Semacam bercermin. Betapa buruknya dan tidak mengenakannya saya jika saya berperilaku buruk. Iya saya menjadi paham karena sayalah yang menjadi korbannya. Tapi saya menajdi bersyukur, karena justru itulah yang menjadikan saya untuk lebih menginstropeksi diri. Bahwa apa pun itu hal yang buruk tidak pernah menjadi lebih baik daripada perilaku yang baik. Dan terimakasih telah menjadi bagian untuk mendewasakan pemikiran saya. 
Tetapi apapun itu, saya tidak pernah menyesal mengenal mereka. memikirkan kesan tentang seseorang itu tak harus hal buruknya, tapi hal baiknya lah yang seharusnya dikenang. Hal buruk yang mereka perbuat mungkin hanyalah sepersekian persen dibanding dengan hal baik yang telah mereka berikan kepada saya. dan itupun bukan karena sengaja, dan itupun karena manusiawi. Saya bersukur mengenal mereka.

Dan terimakasih Ya Allah telah mengenalkan saya kepada mereka.